Mazelis ilmu dana dzikir Thoha 77,,,jln raya 5 RT 05 desa panca karya kecamatan alalak marabahan, bola kalimantan selatan, 08125677777
Proses makan bukanlah sekadar aktivitas rutin yang tampak sederhana. Di dalamnya tersimpan keajaiban yang melampaui pandangan kasat mata. Nutrisi bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga psikis, bahkan spiritual.
Mari kita telusuri ketiga aspek ini secara berurutan.
Aspek Biologis: Keajaiban Saluran Cerna
Dari sudut pandang biologis, saluran pencernaan manusia adalah salah satu organ paling kompleks, bahkan mungkin hanya sebanding dengan otak. Setiap detik, melalui mulut, kita berhadapan dengan miliaran benda asing: makanan, virus, bakteri, jamur, parasit, alergen, dan antigen. Sungguh ajaib bahwa sel-sel imun dan sel-sel usus mampu mengenali satu per satu benda asing tersebut—mana yang berguna untuk diserap, dan mana yang harus ditolak.
Sistem pencernaan dirancang untuk mengubah beragam makanan menjadi nutrisi bermanfaat, baik sebagai sumber energi, maupun untuk pertumbuhan dan perbaikan seluruh sel tubuh. Sebagian besar makanan tidak dapat langsung diserap; tubuh harus mencerna dan memecahnya menjadi molekul yang lebih kecil.
Agar proses ini berjalan, dibutuhkan campuran biokimia yang mengandung berbagai enzim yang bekerja dengan spesifik: protease memecah protein, amilase memecah pati, laktase memecah laktosa, sukrase memecah sukrosa, serta lipase dan empedu memecah lemak. Semua proses ini berlangsung cepat, otomatis, tanpa kendali sadar, dan sangat efektif. Proses tidak pernah keliru sasaran dan secara ajaib ia mencari sendiri zat makanan yang akan dicernanya.
Semua ini dikendalikan oleh sistem saraf yang menakjubkan di dalam usus, yang disebut Enteric Nervous System (ENS). Usus adalah organ otonom yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh otak besar. Dengan miliaran sel saraf di dalamnya, usus mengatur setiap proses pencernaan secara mandiri. Karena kecerdasannya ini, usus sering disebut sebagai “otak kedua” (second brain) manusia.

Aspek Psikis: Hubungan Emosi dan Nafsu Makan
Dari aspek psikis, makan juga memiliki keunikan tersendiri. Pernahkah kita merasa ingin makan terus-menerus di satu waktu, tetapi di lain waktu justru kehilangan selera makan sama sekali?
Fenomena ini menunjukkan bahwa nafsu makan tidak selalu berbanding lurus dengan kebutuhan energi. Orang dengan obesitas cenderung makan karena dorongan keinginan, bukan karena lapar fisik. Dalam kondisi stres, sebagian orang justru makan berlebihan hingga berat badan naik, sementara sebagian lain kehilangan nafsu makan hingga menjadi kurus. Pada anak-anak, sebagian besar masalah makan ternyata lebih bersifat psikologis daripada biologis.
Secara medis, hal ini dijelaskan oleh hubungan kompleks antara otak dan usus yang disebut “gut-brain axis”—jalur komunikasi dua arah melalui saraf vagus, hormon, dan sistem imun. Emosi seperti cemas, sedih, atau gembira secara langsung memengaruhi gerakan usus, sekresi enzim, dan sensitivitas rasa lapar. Inilah sebabnya kesehatan mental dan kesehatan pencernaan saling terkait erat.

Aspek Filosofis-Spiritual: Nutrisi dalam Pandangan Mulla Sadra
Sekarang kita sampai pada aspek yang paling jarang dibahas, bahkan mungkin terasa asing bagi pemikiran umum, yaitu nutrisi dari sudut pandang jiwa.
Di sinilah filsafat Islam memberikan wawasan yang mendalam.
Mulla Sadra (filsuf Persia abad ke-17, yang dianggap sebagai pemikir Islam terpenting setelah Ibnu Sina) memandang nutrisi bukan sekadar proses kimiawi, melainkan sebagai manifestasi kerja jiwa. Ia melanjutkan pemikiran Ibnu Sina tentang tiga tingkatan jiwa, yaitu:
Jiwa Nabati (tumbuhan), yang memiliki aspek nutrisi, tumbuh, dan regenerasi.
Jiwa Hewani, di samping ketiga potensi nabati, terdapat potensi tambahan yaitu gerak dan persepsi.
Jiwa Insani (manusia), memiliki potensi jiwa nabati dan jiwa hewani, namun manusia diberi karunia berupa akal dan kesadaran untuk mengendalikan potensi nabati dan hewani dibawahnya.
Mulla Sadra menguraikan proses makan dengan bahasa yang sangat simbolis dan mendalam. Berikut beberapa kutipan pentingnya:
“Kemampuan jiwa dalam nutrisi adalah membuat makanan menjadi sesuatu yang mirip dengan organ tubuh, untuk menggantikan apa yang telah rusak dari organ tersebut.”
Ini berarti proses nutrisi pada hakikatnya adalah upaya jiwa untuk memulihkan keselarasan tubuh—sebuah bentuk rekonstruksi yang bersifat terus-menerus.
“Makanan ‘dimasak’ oleh panas api neraka perut (lambung), yang ketika ditanya: ‘Apakah kamu sudah kenyang?’ Ia akan menjawab: ‘Apakah masih ada lagi?'”
Di sini Mulla Sadra mengutip firman Allah dalam Surah Qaf ayat 30:
(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada (neraka) Jahanam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’
Lambung dianalogikan dengan neraka—bukan dalam arti siksaan, tetapi dalam makna api pemurnian yang tak pernah puas, terus membakar dan mengolah makanan hingga siap diserap. Ini adalah simbol dari proses takhalli (pengosongan) dalam tasawuf.
“Makanan itu dibersihkan dari sisa-sisa penolakan (bahan yang tidak berguna) oleh tangan para penjaga neraka, kekuatan yang digunakan untuk penyempurnaan bagi yang telah meninggalkan ketaatan kepada Allah, menjauh dari kesatuan yang seimbang, menyimpang dari jalan lurus Allah, dari sifat yang mengelola tubuh sesuai dengan cara Inayah Ilahi.”

Dengan kata lain, proses pemisahan antara nutrisi dan kotoran adalah simbol dari pemisahan antara kebaikan dan keburukan dalam diri manusia. Organ-organ pencernaan bertindak seperti “penjaga” yang menyaring, sebagaimana jiwa yang bertakwa menyaring amal perbuatan.
“Tahap berikutnya, pencernaan diselesaikan oleh tingkat di bawahnya. Mereka terbebas mengolah makanan, sehingga makanan tersebut naik dari ‘neraka gelap’ ini ke tingkat lain yang disebut hati.”
Hati di sini bukan sekadar organ fisik, tetapi qalb—pusat spiritual yang lebih halus. Makanan yang telah melalui lambung kemudian “naik” menuju hati untuk diproses lebih lanjut. Ini menunjukkan bahwa nutrisi tidak hanya memperbaiki tubuh fisik, tetapi juga memengaruhi kualitas batiniah.
“Ia dicerna lebih lanjut di hati dan sebagian kotoran dan sisa yang masih ada dipisahkan darinya. Sebagian bercampur dengan ‘tindakan kebaikan’ dan yang lain dengan ‘kejahatan’.”
Ini adalah pernyataan yang sangat berani: makanan tidak netral secara moral.
Apa yang kita makan, bagaimana kita mendapatkan dan dalam kondisi jiwa apa kita memakannya, akan memengaruhi kecenderungan jiwa kita kepada kebaikan atau kejahatan.
“Kemampuan jiwa dalam pencernaan membebaskan mereka dari semua ketidaktaatan, dan membuat mereka lebih dekat dengan kesejahteraan tubuh melalui penaklukan pada ‘Inayah Ilahi’.” Pencernaan yang sempurna adalah bentuk kepatuhan tubuh kepada rancangan Ilahi. Ketika proses ini berjalan harmonis, tubuh dan jiwa mendekati kesejahteraan sejati.
Pada tahap akhir, makanan benar-benar menjelma menjadi bagian dari tubuh. Ini adalah puncak dari proses nutrisi: dari zat asing menjadi daging dan darah, dari materi kasar menjadi bagian dari diri. Dalam pandangan Mulla Sadra, ini adalah gambaran dari perjalanan jiwa dari alam rendah menuju kesempurnaan.
Mulla Sadra mengajak kita untuk tidak memandang remeh setiap suapan. Karena dalam setiap gigitan, terdapat gerak jiwa yang berusaha memperbaiki dirinya, membersihkan diri dari kotoran, dan mendekatkan diri kepada kesempurnaan yang telah digariskan oleh Inayah Ilahi.
Makan bukan sekadar mengisi perut, melainkan aktivitas jiwa. Bukan sekadar mempertahankan hidup, melainkan menghidupkan makna.
wassalam..
Red.Wartan041
