Singkawang Kalbar// Pemerintah Kota Singkawang telah mengeluarkan kebijakan untuk melarang operasional odong-odong atau kereta Hias di jalan raya, menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Sementaran itu pemerintah berpegang pada alasan keselamatan, para pelaku usaha kereta wisata merasa kecewa dan khawatir akan nasib mata pencaharian mereka.
“Saya cuman bisa minta welas asih sama Walikota Singkawang. Jangan kami langsung dimatikan. Karena kereta wisata ini juga sangat menunjang wisata yang ada di Kota Singkawang.” kata pemilik kereta hias saat dihubungi awak media warta Nusantara, Minggu (8/2/2026).
Semua ini karena adanya Kebijakan berdasarkan pada Surat Keputusan Wali Kota Singkawang Nomor 500.11.22.1/514/DN-10.ANG Tahun 2025 tentang Operasional Angkutan Keliling Kota Pusaka di Kota Singkawang.
Surat keputusan ini menetapkan bahwa kendaraan odong-odong harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang berkeselamatan, serta menggunakan minimal kendaraan roda 4 berbasis angkutan penumpang.
Dan Kekecewaan para Pelaku Usaha kereta Hias merasa bahwa kebijakan ini diambil sepihak tanpa solusi ekonomi yang instan bagi mereka.
Mereka telah mengeluarkan modal besar untuk memodifikasi kendaraan menjadi Kereta Hias yang kini tidak bisa digunakan di jalan raya.sedangkan prosedur yang diberikan kepada kami selalu kami ikuti.
Dalam pengoperasian usaha Kereta Hias yang sudah berjalan kurang lebih belasan tahun, belum adanya yang mengakibatkan kecelakaan, Sebab desain odong-odong pun semua menggunakan gabus yang ringan. bahkan yang memproduksi tetap mengutamakan keselamatan penumpang,walau pun kami masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi, tapi kami bisa juga melihat yang mana aman yang mana tidak.
Kami sebagai Usaha Odong-odong hanya menginginkan solusi kepada Pemerintah dan ingin berjumpa dengan Walikota Singkawang, agar diberikan solusi yang baik ,agar tidak menambah beban kepada para pelaku odong-odong, maksudnya bukan menambah hutang yang masih ada.karena dengan kebijakan yang diberikan itu mengharapkan kami menambah hutang dalam produksi mobil roda 4, .”ucap pengusaha odong-odong.
“Kami diberi waktu 6 bulan untuk mengganti dengan roda 4, tetapi tidak memberikan solusi yang baik. Bahkan seakan-akan menyuruh kami untuk membeli roda 4 yang mana harganya tidak semua orang bisa membelinya,bahkan kami sebagai usaha odong-odong malah diberi masukkan untuk meminjam dana Usaha Mikro kepada Pihak Bank, malah itukan menambah beban kami,yang mana hutang lama pun masih ada, sedangkan hutang lama kan harus kami bayar,ini malah menambah hutang kami.”kata pemilik usaha odong-odong.
Padahal Dampak Ekonomi dalam Pelarangan operasional odong-odong ini juga berdampak pada ekonomi masyarakat.
Banyak dari mereka yang menggantungkan hidupnya pada usaha odong-odong, dan kini terancam kehilangan mata pencaharian.bahkan para pekerja kehilangan pekerjaannya.
“Dengan adanya larangan odong-odong, malah menambah beban kepada kami, terutama masalah pekerjaan yang hilang. Dan juga, seandainya odong-odong dilarang beroperasi, bagaimana kami ingin membayar hutang bahkan mencari untuk makan dalam membuat kereta wisata,” kata pemilik odong-odong lainnya.
Permintaan Audiensi kepada Pemerintah agar kami bisa menyuarakan aspirasi dan keluhan kami terhadap mata pencarian selama ini hanya odong- odong.
Kami Para pelaku usaha odong-odong meminta pemerintah kota Singkawang untuk membuka ruang dialog dan audiensi dengan mereka.
“Mereka ingin menyampaikan aspirasi dan keluh kesah mereka sebagai jasa, bukan dari instansinya.”ucap pemilik usaha kereta hias.
“Kami siap menjalankan peraturan Walikota, tapi dengan satu catatan Walikota Singkawang bisa bertemu dan Audiensi bersama kami Pemilik Odong-odong, agar kami pemilik odong-odong bisa mendengar aspirasi dan keluh kesah kami sebagai jasa, bukan dari instansinya,” kata salah satu pemilik odong-odong.
Dilain tempat awak media menyambangi pengunjung yang mana sedang menikmati kereta hias,” kok dilarang sih odong-odong beroperasi,padahal Singkawang ini kan kota pariwisata,dan apa sih dampaknya jika kereta hias ini di larang beroperasi,yang jelas kan menambah pengangguran,kemana hati nurani pemerintah.” Ucap pengunjung yang tidak mau di sebut namanya.
Maka kalau di ambil kesimpulan Dilema angkutan wisata odong-odong di Kota Singkawang merupakan contoh dari tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam menyeimbangkan antara keselamatan dan mata pencaharian masyarakat.
Dengan dialog dan kerja sama yang baik, diharapkan dapat ditemukan solusi yang terbaik bagi semua pihak.*(Ary)

