Februari 19, 2026

Singkawang Kita: Audit Jadi Tabu, Kritik Dibalas Laporan Polisi

Oleh : Yohanes Gunardi || Sekretaris Dewan Rakyat Dayak | Kora Singkawang

Di Singkawang hari ini, ada ironi yang telanjang: audit dianggap ancaman, kritik diperlakukan sebagai kejahatan. Ketika publik bertanya, kekuasaan menjawab dengan pasal. Ketika warga menuntut transparansi, yang datang justru surat panggilan polisi.
Kota ini seolah sedang mengirim pesan berbahaya: jangan bertanya, jangan mengkritik, jangan mengaudit.
Padahal audit bukanlah bentuk permusuhan. Audit adalah mekanisme sehat dalam demokrasi, alat untuk memastikan uang rakyat digunakan secara benar. Audit adalah bahasa akuntabilitas. Namun ketika audit diposisikan sebagai “gangguan”, bahkan diperlakukan layaknya serangan politik, yang sesungguhnya sedang terganggu bukan pemerintahan melainkan mental kekuasaan itu sendiri.

Lebih ironis lagi, kritik yang seharusnya dijawab dengan data dan klarifikasi, justru dibalas dengan laporan polisi. Ini bukan sekadar soal hukum, ini soal etika bernegara. Aparat penegak hukum bukan tameng untuk melindungi pejabat dari pertanyaan publik. Polisi bukan alat pembungkam, dan hukum pidana bukan senjata untuk menakut-nakuti warga.
Ketika walikota memilih jalur represif atas kritik, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik pribadi, tetapi ruang demokrasi lokal. Kritik publik adalah hak konstitusional, dijamin oleh Undang-Undang. Mengkriminalisasi kritik sama artinya dengan mengkriminalisasi partisipasi warga.

Singkawang bukan milik walikota. Singkawang milik rakyat. Anggaran yang dikelola bukan harta pribadi, melainkan uang publik yang wajib diawasi. Jika audit dan kritik dianggap musuh, publik berhak bertanya: apa yang sedang disembunyikan?
Demokrasi tidak mati karena kritik yang keras. Demokrasi mati justru ketika penguasa alergi pada pertanyaan. Kota yang sehat adalah kota yang berani diaudit, bukan kota yang sibuk melaporkan pengkritiknya.
Jika hari ini kritik dibalas laporan polisi, maka besok bisa jadi diam adalah satu-satunya pilihan yang aman. Dan ketika itu terjadi, Singkawang tidak lagi sedang membangun melainkan sedang mundur ke masa ketika kekuasaan tak bisa disentuh, dan rakyat hanya diminta patuh.

Audit bukan tabu. Kritik bukan kriminal.
Yang berbahaya bagi demokrasi adalah kekuasaan yang tak mau diawasi.

Tim

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *