Singkawang, WARTA NUSANTARA – Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Sing-Be-Bas yang semakin Meluas meberikan dampat yang rawan kepada Masyarakat. Di Kota Singkawang saat ini kian memasuki fase kritis dan berada pada kondisi yang sangat mengkhawatirkan akibat kepungan kabut asap pekat.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terbaru per awal September 2026, kualitas udara di wilayah Singkawang Barat, Tengah, dan Selatan telah melonjak ke angka 246 dengan kategori Sangat Tidak Sehat, bahkan sempat menyentuh level tertinggi di angka 319 (Berbahaya).
Asap tebal hasil pembakaran ini tidak hanya menyelimuti wilayah pinggiran, tetapi kini telah merambah dan mengepung pusat bisnis serta jalur protokol di tengah kota. Kondisi ini memicu ancaman ganda yang serius terhadap keselamatan berkendara sekaligus kesehatan masyarakat.
Enam Ruas Jalan Tengah Kota Diselimuti Kabut Pekat
Pantauan langsung Awak Media di lapangan menunjukkan visual di sejumlah jalan utama tengah kota sudah sangat mengkhawatirkan. Jarak pandang (visibility) menurun drastis, mengaburkan arus lalu lintas di enam titik krusial berikut:
JL. Pemuda: Jalur utama ini dipenuhi kabut putih pekat yang membuat lampu kendaraan dari arah berlawanan nyaris tidak terlihat.
JL. Simpang Tugu Polisi: Sebagai salah satu titik pertemuan arus lalu lintas tersibuk, jarak pandang di area bundaran ini sangat terbatas dan memicu penumpukan kendaraan.
JL. Diponegoro: Kawasan pertokoan dan pusat mobilitas warga ini tampak temaram akibat sinar matahari yang terhalang sepenuhnya oleh dinding asap.
JL. Merdeka: Akses jalan protokol yang biasanya ramai kini diselimuti bau sangit menyengat dengan jangkauan pandang yang sangat pendek.
JL. Niaga: Pusat ekonomi kota tua Singkawang ini terisolasi oleh kabut tebal, memaksa para pedagang menghidupkan lampu toko sejak siang hari.
JL. Kom Yos Soedarso: Jalur penghubung ini dipenuhi partikel debu sisa pembakaran yang beterbangan, mengaburkan pandangan para pelintas jalan.

Ancaman Keselamatan & Kesehatan Pengemudi Motor
Dampak paling fatal dari pekatnya kabut asap di enam ruas jalan tersebut mengintai para pengemudi kendaraan bermotor, khususnya roda dua. Penurunan jarak pandang secara drastis meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas secara signifikan karena pengendara motor kesulitan mengantisipasi marka jalan, lubang, maupun kendaraan di depannya yang mengerem mendadak. Guna menghindari tabrakan beruntun, pengguna jalan terpaksa menyalakan lampu utama serta memangkas kecepatan di bawah 20 km/jam.
Bagi pengendara sepeda motor, jalanan kota kini berubah menjadi ruang paparan racun yang berbahaya. Tanpa perlindungan kabin, mereka langsung menghirup partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla. Paparan ini memicu iritasi mata parah (perih dan berair), gangguan pernapasan akut (sesak napas, tenggorokan kering, batuk), hingga kelelahan fisik instan akibat menurunnya kadar oksigen di udara bebas.
Rincian Tingkat Keparahan & Dampak Karhutla di Singkawang
1. Luas Lahan Terbakar & Titik Api
Total Lahan:
Laporan dari Manggala Agni mencatat sedikitnya 37,27 hektare lahan gambut telah hangus terbakar. Dari jumlah tersebut, tim gabungan baru berhasil memadamkan sekitar 23,6 hektare.
Sebaran Wilayah:
Titik api yang menjadi perhatian utama tersebar di 12 titik, terutama di Kelurahan Sedau dan Pangmilang (Kecamatan Singkawang Selatan) serta Kelurahan Sungai Rasau (Kecamatan Singkawang Utara). Kebakaran hebat juga menghanguskan area sekitar jalan akses menuju Bandara Singkawang.
2. Dampak Nyata bagi Sektor Publik dan Warga
Pendidikan:
Pemkot Singkawang terpaksa meliburkan sekolah tatap muka dan mengalihkan seluruh kegiatan belajar-mengajar ke sistem daring guna melindungi anak-anak dari paparan partikel berbahaya PM2.5.
Ekonomi & Transportasi:
Jarak pandang yang memburuk akibat kabut asap tebal mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Singkawang, yang langsung berdampak pada konektivitas dan logistik daerah.
Kesehatan:
Risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meningkat drastis.
Warga, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil, sangat disarankan untuk membatasi aktivitas luar ruangan dan wajib mengenakan masker standar jika terpaksa keluar rumah.
Upaya Pemadam Hadapi Tantangan Berat
Proses pemadaman di lapangan hingga saat ini menghadapi tantangan yang sangat berat. Karakteristik lahan gambut yang kering dan vegetasi semak belukar yang tebal membuat api cepat menjalar di bawah permukaan tanah (ground fire), diperparah oleh hembusan angin kencang yang sering kali memicu munculnya titik api baru. Pemkot Singkawang bersama TNI, Polri, BPBD, serta relawan pemadam kebakaran saat ini terus disiagakan penuh di posko-posko penanganan darurat untuk memitigasi dampak bencana yang lebih luas.
WD-Red. Wartan041


